Kamis, 04 Desember 2014

APABILA ALLAH TIDAK MENGHENDAKI KITA

Allah akan sibukkan kita dengan urusan dunia
Allah akan sibukkan kita dengan urusan anak anak
Allah akan sibukkan kita dengan urusan perniagaan
Alangkah ruginya karena kesemuanya itu akan kita tinggalkan
Sekiranya kita mampu pertanya pada orang orang yang telaah pergi terlebih dahulu menemui Allah swt dan jika mereka diberi peluang untuk hidup sekali lagi, sudah semestinya mereka memilih tidak lagi akan bertarung mati matian untuk merebut dunia.
Karena tujuan kita diciptakan Allah untuk menyembah Allah dan beribadah kepada Allah.
Kita mungkin cemburu apabila melihat orang lain lebih dari kita, dari segi gaji, pangkat, harta, rumah besar, mobil mewah.
Kenapa kita tidak cemburu melihat ilmu orang lain lebih dari kita.
Kita tidak pernah cemburu apabila melihat orang lain bangun disepertiga malam, sholat tahajut dan bermunajat.
Kita cemburu apabila melihat orang lain ganti mobil baru dengan yang lebih mewah….
Tetapi jarang kita cemburu apabila melihat orang lain yang bias khatam Al Quran sebulan dua kali…
Setiap kali menyambut hari ulang tahun, kita sibuk mau merayakan sebaik mungkin, tetapi kita telah lupa dengan bertambahnya umur kita… maka panggilan illahi bertambah dekat…
Kita patut bermuhasabah mengenai persiapan ke satu perjalanan yang jauh, yang tidak akan kembali untuk selama lamanya. Hidup didunia menentukan kehidupan yang kekal nanti di akhirat.
Sesungguhnya mati itu benar.
Alam kubur itu benar, hisab itu benar, mahsyar Allah itu benar, surge dan neraka itu benar.
Penyelesaian kepada masalah hidup adalah melalui iman dan amal.

Iman sebesar zarrah, Allah muliakan dengan surge 100X dunia.

Rabu, 03 Desember 2014

Setetes madu jatuh diatas tanah

Datanglah seekor semut kecil, perlahan lahan dicicipinya madu tersebut
Hmmmm…….manis. lalu dia beranjak hendak pergi.
Namun rasa manis madu sudah terlanjur memikat hatinya. Diapun kembali mencicipinya lagi, sedikit saja. Setelah itu barulah dia akan pergi.
Namun ternyata dia merasa tidak puas hanya mencicipi madu dari pingkir tetesannya saja.
Dia piker, kenapa tidak sekalian saja masuk dan menceburkan diri agar bias menikmati manisnya, lagi dan lagi.
Maka masuklah sang semut tepat di tengah tetesan madu.
Ternyata badan mungilnya malah tenggelam penuh madu, kakinya lengket dengan tanah.
Dan…… tentu saja tak bias bergerak.
Malang nian, dia terus seperti itu hingga akhir hayatnya. Mati dalam kubangan setetes madu.
Demikian analogi sederhana tentang dunia dan pecinta dunia sebagaimana perumpamaan dalam sebuah pepatah arab :
“ hakikat apa-apa dari kenikmatan dunia melainkan bagai setetes besar dari madu”.
Maka siapa saja yang mencicipinya sedikit, ia akan selamat.

Namun siapa yang menceburkan diri kedalamnya, ia akan binasa.